Minggu, 30 Desember 2012

Bahasa Sebagai Identitas Bangsa

Indonesia adalah bangsa yang kaya akan keberagaman budaya. keberagaman tersebut mencakup semua aspek kehidupan, diantaranya; ras,suku bangsa, bahasa, agama, aliran politik dan lain sebagainya. Keberagaman inilah yang membentuk keadaan yang menunjukkankesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan ( integritas ) bangsa Indonesia. Keberagaman budaya masyarakat Indonesia menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya budaya serta memiliki banyak potensi untuk terus berkembang menjadi bangsa yang maju. Namun, jika kita tidak mengimbangkan antara keberagaman dan nasionalisme maka akan menimbulkan konflik dan perpecahan pada tubuh bangsa Indonesia sendiri. Di era globalisasi ini, terjadi kontak budaya bangsa dengan kebudayaan asing yang membuat keadaan tingkatan atau ukuran ( intensitas ) pengaruh terhadap budaya menjadi besar, juga penyebarannya berlangsung dengan cepat dan luas. Ini akan berdampak terhadap tata nilai masyarakat suatu bangsa yang dituntut untuk memiliki identitas agar memiliki ciri khas tersendiri dari bangsa-bangsa lainnya. Ciri khas tersebut dimulai dari identitas yang kuat bagi suatu bangsa hingga membentuk jati diri yang membedakan bangsa satu dengan bangsa lainnya. Identitas ini akan menjadikan suatu bangsa menjadi kokoh dengan kebudayaannya yang kita ketahui sekarang ini banyak budaya asing sedang berputar mengitari dan siap masuk kedalam suatu bangsa, salah satunya bangsa Indonesia. Menurut Kaelan (2007:07) Istilah “identitas nasional” secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain. Berdasarkan pengertian yang demikian ini maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut. Jika suatu bangsa tidak memiliki identitas yang membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lainnya, maka akan terbuka jalan untuk masuknya budaya asing ( budaya berbicara ) kedalam bangsa Indonesia. Ketika budaya asing telah menjadi bagian dari suatu bangsa akan membuat jati diri bangsa tersebut perlahan akan melemah dan mengalami kekacauan bahasa dan bangsa itu sendiri. Yang menjadi persoalan pada pernyataan tersebut, kita diperhadapkan dengan empat masalah dan masalah inilah yang akan saya bentangkan. Menurut pandangan saya, yaitu sebagai berikut: 1. Bangsa Indonesia terdiri dari macam-macam suku bangsa, dengan latar belakang sosio-budaya yang beraneka ragam. 2. Bangsa Indonesia memiliki banyak bahasa serapan baik unsur asing maupun unsur daerah. 3. Pergeseran nilai terhadap makna bahasa Indonesia menjadikan makna bahasa itu beragam diberbagai tempat. Hal ini dapat mengakibatkan bahasa sulit dipahami, dan pemakaian kata seharusnya disesuaikan dengan tempat pemaikaiannya. Contohnya panggilan Tante dan Om, Awak serta Saudara. 4. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi membawa pengaruh buruk terhadap bahasa indonesia sebagai alat komunikasi. Keberagaman bahasa di Indonesia merupakan wujud konkret keberagaman kebudayaan diseluruh tanah air. Dalam konsep ilmu sosiologi, dikatakan bahwa semakin beranekaragam jenis masyarakat, maka semakin besar pula peluang untuk terjadinya perpecahan. Bahasa yang merupakan bagian dari kebudayaan, ragamnya begitu banyak di Indonesia, hal inilah yang dikhawatirkan akan menimbulkan disintegrasi sosial dalam masyarakat Kemajemukan yang terjadi di bangsa ini merupakan tantangan baru yang menjadi motivasi agar dewasanya kita lebih mengutamakan persatuan bukan banyaknya unsur-unsur nilai di bangsa ini. Bahasa merupakan salah satu unsur pendukung pembentukkan identitas nasional. Bahasa juga sebagai salah satu alat untuk seseorang berekspresi. Namun karena ada keluasan dalam berekspresi, masyarakat seakan tidak mengetahui hal-hal yang telah ditetapkan dalam bahasa tersebut. Dalam era globalisasi ini, jati diri bahasa Indonesia merupakan ciri bangsa Indonesia yang perlu terus dipertahankan. Pergaulan antarbangsa memerlukan alat komunikasi yang sederhana, mudah dipahami, dan mampu menyampaikan pikiran yang lengkap. Pergaulan ini sama halnya dengan bangsa Indonesia membuka diri dengan menerima perkembangan global dengan tidak menutup diri bahwa Indonesia harus terus dibina dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia dalam pergaulan antarbangsa pada era globalisasi ini. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bagi seluruh rakyat Indonesia sudah dicanangkan dalam sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Pemuda indonesia bersumpah dalam tiga hal yaitu berbangsa satu bangsa Indonesia, bertumpah darah satu tanah air indonesia, berbahasa satu bahasa indonesia. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional yang sumber hukumnya adalah Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 - bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai lambang kebanggaan kebangsaan, identitas nasional, alat penyatuan berbagai suku bangsa dalam kesatuan kebangsaan, dan alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Begitu juga dalam kedudukannya sebagai bahasa negara - dengan dasar hukumnya adalah UUD 1945 Bab XV Pasal 36 -, bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional untuk perencanaan dan pelaksanaaan pembangunan nasional, serta alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Sebagai suatu bahasa untuk ratusan juta penduduk yang tersebar pada ratusan pulau dengan bahasa daerah yang jumlahnya juga ratusan, kurun waktu yang demikian merupakan usia yang masih muda. Akan tetapi, bahasa Indonesia menanggung beban tugas yang amat sarat karena ia dituntut untuk tetap menjadi sarana komunikasi yang mantap dalam berbagai bidang kehidupan. Dalam konteks persatuan bangsa yang tengah dan terus dilaksanakan oleh bangsa Indonesia, harus tetap mempertahankan dirinya sebagai sarana komunikasi yang efektif dan efisien tanpa kehilangan, apalagi mengorbankan keutuhan jati dirinya. Bahasa sendiri mengalami tahap-tahap perkembangan, diantaranya : Tahap petama, perkembangan fungsi bahasa Indonesia terjadi pada masa prakemerdekaan bangsa Indonesia. Pada masa itu terjadi loncatan perkembangan pemikiran pada suatu golongan tertentu masyarakat Indonesia, yaitu golongan terpelajar yang telah bersentuhan dengan sistem pendidikan cara Eropa. Tahap kedua, perkembangan fungsi bahasa Indonesia terjadi pada kemerdekaan awal. Pada masa itu negara Republik Indonesia telah terbentuk, tetapi masih mengalami masa pancaroba dalam bidang politik dan kemiliteran. Dalam situasi demikian itu, pelaksanaan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara merupakan peningkatan fungsi bahasa Indonesia. Pada tahap ketiga itulah dilakukan usaha ke arah terwujudnya bahas Indonesia sebagai bahasa resmi. Upaya yang disebut sebagai pembinaan diarahkan kedua tujuan. Tujuan pertama adalah agar bahasa nasional itu sebagai media komunikasi semakin luas dikenal dan dipergunakan di dalam masyarakat Indonesia baru. Tujuan kedua adalah agar bahasa itu sendiri sebagai suatu sistem simbol, menjadi semakin lengkap sebagai suatu perangkat yang utuh. Selain sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga mempunyai beberapa fungsi lain, diantaranya : Yang pertama adalah sebagai alat komunikasi nasional, bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi verbal (lisan dan tulis) yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia secara formal berdasarkan UUD 1945. Dengan menggunakan bahasa Indonesia, masyarakat yang beranekaragam dapat saling berkomunikasi dengan baik dan mudah, tanpa memandang adat, suku, dan ras masing-masing. Yang kedua, bahasa sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial, disini bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan. Pembelajaran dan pemahaman berbahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan hal yang wajib diketahui oleh orang-orang asing yang berdomisili di Indonesia. Dengan kata lain, adanya bahasa Indonesia merupakan upaya adaptasi orang asing terhadap budaya berbahasa di Indonesia sendiri, supaya mereka dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Secara tidak langsung hal tersebut akan menaikkan citra bahasa Indonesia kepada masyarakat asing. Yang ketiga, bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial, bahasa Indonesia berperan sebagai alat kontrol sosial yang mempersatukan dan menjadi penengah konflik yang muncul di masyarakat Indonesia sendiri. Misalkan dua dari golongan suku berselisih pendapat, maka meditasi akan dilakukan di keduanya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Begitu bermanfaatnya bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, memang patut dibenarkan apa yang seringkali didengungkan oleh para pahlawan kita bahwa; bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa. Pembinaan bahasa Indonesia terus ditingkatkan sehingga penggunaannya secara baik dan benar serta dengan penuh rasa bangga makin menjangkau seluruh masyarakat, memperkukuh persatuan dan kestuan bangsa, serta memantapkan kepribadian bangsa. Penggunaan istilah asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia harus dihindari. Menurut Habib (2011:01) cara efektif yang bisa digunakan untuk membangun dan mengembalikan jati diri bangsa Indonesia serta menekan pengaruh buruk pihak lain baik yang berasal dari luar maupun dari dalam yang mengikis jati diri bangsa Indonesia yaitu yang pertama dimulai dari diri kita sendiri. Hal itu dapat dilakukan dengan membiasakan diri dari sekarang untuk bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila sebagai jati diri kita. Adapun cara pengembanan bahasa indonesia dari sudut pandang seorang pelajar adalah 1. Mengembalikan jiwa nasionalisme dan rasa memiliki terhadap bangsa ini dikalangan pelajar yang sempat hilang di era globalisasi dengan cara menanamkan nilai-nilai kemerdekan dalam setiap diri masyarakat Indonesia. Dengan begitu, bangsa Indonesia yang terdiri dari macam-macam suku bangsa, dengan latar belakang sosio-budaya yang beraneka ragam bukanlah menjadi sebuah masalah, namun menjadi sebuah potensi untuk berkembang dan maju. 2. Membuat kegiatan-kegiatan untuk pengembangan bahasa Indonesia dikalangan pelajar dengan cara-cara yang menghibur agar penggunaan bahasa baik secara tertulis ataupun lisan sering digunakan tidak menyimpang atau sesuai dengan penulisan kaidah bahasa Indonesia. 3. Penggunaan bahasa yang baik oleh pesohor-pesohor negeri serta media-media yang berkomunikasi dikalangan luas agar tidak terjadi pergeseran-pergeseran nilai makna bahasa Indonesia yang berbeda di berbagai tempat dan bahasa lebih mudah dipahami. 4. Tidak menutup ruang untuk budaya asing masuk ke Indonesia, namun diiringi dengan memberi dukungan tindakan memperkenalkan budaya Indonesia ke kanca dunia. Jadi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi bukan masalah terhadap bahasa indonesia sebagai alat komunikasi. Keberhasilan upaya membahasaindonesiakan seluruh bangsa Indonesia akan meningkatkan kedudukan bahasa indonesia di jiwa rakyat dan melambangkan citra dari identitas bangsa yang berarti memantapkan pula jati diri bangsa dan sekaligus meningkatkan ketahanan nasional. Sebagai masyarakat Indonesia yang menginginkan perubahan kearah yang lebih baik bagi bangsa Indonesia, kita harus memulai perubahan itu dari hal kecil dalam diri kita sendiri. Perilaku/kepribadin yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila harus kita kikis. Selanjutnya kita juga harus menularkannya pada orang-orang disekitar kita, agar kepribadian bangsa Indonesia sebagai Identitas Nasional dapat sesuai dengan Pancasila. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa budaya asing yang masuk ke Indonesia tidak menutup kemungkinan membawa dampak positif maupun negatif bagi bangsa Indonesia. Keberagaman budaya masyarakat Indonesia menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya budaya serta memiliki banyak potensi untuk terus berkembang menjadi bangsa yang maju. Namun, jika kita tidak mengimbangkan antara keberagaman dan nasionalisme maka akan menimbulkan konflik dan perpecahan pada tubuh bangsa Indonesia sendiri. cara efektif yang bisa digunakan untuk membangun dan mengembalikan jati diri bangsa Indonesia serta menekan pengaruh buruk pihak lain baik yang berasal dari luar maupun dari dalam yang mengikis jati diri bangsa Indonesia yaitu yang pertama dimulai dari diri kita sendiri. Amran halim. 1979b. Sikap Bahasa dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Bahasa Nasional” dalam Pembinaan Bahasa Nasional. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Mustopo, Habib. (1983). Manusia dan Budaya. Kumpulan Essay.Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional Kaelan dan Zubaidi.2007.Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta:Paradigma, Edisi pertama http://hadahabib.blogspt.com/2011/11/esay-jati-diri-generasi-muda-indonesia.html http://prince-mienu.blogspot.com/2010/01/identitas-nasional.html

Sabtu, 06 Oktober 2012

batasan bergaul bagi wanita muslimah

belajar itu awalnya datang dari ketidak tahuan, mencari jati dari karena kita tidak tahu untuk siapa kita hidup dan untuk apa . namun dalam pencarian kita akan menemukan titik terang diana kita akan mendapatkan jawaban dari pencarian kita . saya sebagai remaja merasa prihatin dengan pergaulan remaja muslim yang saya sendiri tidak tahu karena apa . disini saya juga masih dalam tahap belajar untuk berusaha menjadi remaja muslim yang baik. namun prinsip saya adalah kehidupan = belajar . selagi kita mengtahui sesuatu yang bermanfaat berbagilah kepada sesama walaupun hanya satu ayat. selanjutnya akan ada batasan dalam bergaul . untuk membatasi itu kita muslimah ada hal-hal yang harus diketahui , diantaranya : 1. menutup aurat ( berjilbab ) Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.(Al-Ahzab:59) 2. menghindari pandangan yang berlebihan kepada lawan jenis "Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya dan menutup kain kerudung ke dadanya. Janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka tau ayah mereka, atau ayah suami mereka atau anak-anak mereka." (QS. An-Nur : ayat 31) 3. tidak berdua-duaan antara wanita dan pria yang bukan mahramnya 4. tidak bersentuhan kulit anatar pria dan wanita "tak pernah sekali-sekali tangan rasulullah menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya" ( HR Bukhori) 5. dalam sebuah forum hendaknya wanita dan pria dipisah 6.tidak mendayu-dayu dalam berbicara 7. tidak menggunakan parfum yang berlebihan 8. cara berjalan yang tidak menarik perhatian pria

detki-detik wafatnya rasulullah

Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskandua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku." Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"."Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit duniamenyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya."Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku

Rabu, 02 Mei 2012

leukimia hero

Taburan bungan baru saja aku taburkan diatas kuburan dikal adikku yang wafat setahun lalu. Hari kamis ini adalah jadwalku untuk berziarah kemakam dikal. Ini aku lakukan rutin setiap minggu bersama kakek nenekku yang biar tua tapi semangat hidupnya bisa dibilang seperti bayi yang baru lahir kedunia. Dikal meninggal karena penyakit leukemia yang diidapnya. Orang tua ku meninggal kecelakan pesawat pada saat umurku 15 tahun dan pada saat itu dikal baru saja berumur 2 tahun. Aku lah berkewajiban merawat adikku. Hari ini tepat setahun dikal berpulang menghadap sang khalik. Aku begitu ingin memeluknya namun tak bisa, aku hanya ingin mengulang dan berbagi cerita tentang pahlawan kecilku, dikal. Aku sangat menyayangi dikal , aku tau persis bagaimana perasaan dikal ketika tumbuh tanpa belaian kasih dari orang tua. Dia hanya berlindung kepadaku dan juga kakek nenekku. Dikal anak yang lucu, tubuhnya gempel, dan berkulit putih. Setiap yang berjumpa dengannya pasti berkeinginan untuk menarik pipinya. Tapi tak lama orang tuaku meninggal, aku seperti tertampar untuk kedua kalinya setelah mengetahui bahwa dikal yang selalu menangis menahan sakit divonis dokter mengidap leukemia. Aku tak tahu bagaimana hidupku saat itu. Seandainya saja aku yang mengidap leukemia itu. Aku hanya bisa berkeluh “ya tuhan inikah jalan hidupku, baru saja aku kehilangan kedua orang tuaku dan kini aku sedang menuju tahap kehilangan adikku tersayang”. Mungkin keluhku tak mempan buat mengalahkan semangat adikku yang belum mengerti apa-apa itu. Kata dokter , hidup dikal tinggal dua bulan lagi dan hanya mukjizat lah untuk dia bertahan lebih lama. Tapi enam bulan setelah dikal divonis dokter, aku merasa bangga dan haru melihat adikku mampu bertahan sejauh itu. Dokterpun heran dan menyebut dikal sebagai leukemia hero. Hari-harinya dilalui seperti anak-anak pada umumnya. Sampai hari ini dikal berumur 4 tahun dia tetap seperti anak pada umumnya. Setiap hari dia bermain bersama anak-anak seumurannya diperumahan tempat aku tinggal. Sesekali dia mengeluh sakit kepadaku dan itu wajar. Terkadang orang dewasa saja tidak mampu melewati cobaan berat dalam hidupnya. Aku sebagai kakak berusaha member dukungan kepada dikal. Meskipun aku tidak pernah absen sekolah, tapi waktuku takkan pernah kurang untuk dikal. Akupun selalu setia menemani dikal untuk menjalani kemoterapi yang begitu menyiksanya. Senin sepulang aku sekolah, aku bergegas pergi klinik Dr. rudi yang menangani dikal sejak umur 2 tahun. Hari itu dikal akan menjalani kegiatan rutinnya, yah kemoterapi atau momok baginya. Namun sebelum kemoterapi dimulai . aku, nenek, dikal dan dokter rudi duduk diruangan dokter untuk membicarakan kondisi dikal. Ada suatu perkataan yang membuat aku pantas untuk menyebut dikal sebagai malaikat kecil. Pada saat dokter menanyakan apakah dikal merasa sakit, dikalpun menjawab ya. Ketika dokter menanyakan kenapa dia tidak menangis. Dia menjawab “ untuk apa aku menangis pak dokter ? apa iya dengan aku menangis penyakit ku akan sembuh dan pergi dari tubuhku? Bermain bersama teman-teman, tertawa bersama kakakku, dan tidur bersama kakek neneklah yang membuat aku merasa sembuh” Sontak saja tanpa sempat aku menahan, setetes butiran air mata jatuh dari mataku. Aku tak tahu apa yang dalam pikiran dikal, yang aku tahu hanyalah dikal adalah malaikat kecil yang dikirimkan tuhan untuk menemani dan mengajari aku tentang kehidupan setelah orangtuaku meninggal. Seminggu sebelum adikku meninggalkan ku untuk selamannya, dia menggangguku yang sedang belajar mengerjakan tugas fisika. Malam itu dia sangat mencari perhatianku dan akhirnya aku memutuskan untuk berhenti belajar dan melanjutkan besok subuh. Pada saat aku ingin mengajaknya tidur , dikal seperti sedang asyik dengan kamera digital yang aku letakkan di meja belajarku. Aku tak ingin sedikitpun mengganggunya. Ternyata mata ngantukku tak tahan ku bending hingga malam itu aku tidur duluan dan dikal? Aku tak tahu kabarnya lagi dengan kamera itu. Paginya , aku kesiangan dan rumah begitu sepi. Lampu ponsel yang menyala menandakan ada pesan masuk. Pesan dari nenekku yang mengabarkan kalau tadi subuh dikal kolep dan harus dibawa kerumah sakit. Kunci motor langsung aku ambil dari gantungan dan tanpa berbesih badan aku langsung menuju rumah sakit dan menuju kamar yang telah di beri tahu nenek dalam pesan singkat tadi. Badanku bergetar melihat dikal yang terbaring ditempat tidur dengan selang oksigen dihidungnya, kabel-kabel medis ditubuhnya, dan monitor yang menunjukan keadaan jantungnya. Dikal koma selama seminggu. Yang aku lakukan hanyalah berdoa dan meminta agar dikal diberi kekuatan untuk melewati ini semua. Namun malam itu adalah malam yang berat untuk aku dan kakek nenekku. Di monitor terlihat kalau kecepatan detak jantung dikal melemah. Aku membisikan sebuah kalimat ke telinga dikal “ dikal adikku sayang. Kalau dikal mau pergi, pergilah kemanapun dikal mau pergi” dan setelah itu dikal mengeluarkan airmata dari matanya yang tertutup. Air mata itu adalah tangis pertama dan terakhirnya dirumah sakit itu. Dikal pergi ketempat akhir dari segala kehidupan. Tangisku tumpah diatas tubuh dikal. Aku lah yang merasa paling kehilanga. Aku tidak akan pernah memiliki adik seperti dikal lagi. Setelah acara pemakaman dikal selesai, aku berniat untuk mebereskan mainan dikal yang masih berantakan dikamarku. Aku melihat kamera yang sempat dimainin dikal sebelum dia koma dan akhirnya meninggal. Aku menggapai kamera itu dan duduk di atas tempat tidur untuk mengingat lagi tingkah dikal. Setelah aku membuka display picture ternyata ada rekaman. Seingatku aku tak pernah menggunakan kamera ini untuk merekam. Tanpa pikir panjang langsung saja aku menekan tombol oke untuk mulai memutar rekaman itu. “ kak tita ku sayang , dikal sayang kali sama kakak. Dikal juga sayang dengan kakek nenek. Tapi dikal adik yang ngerepotin kakak. Dikal selalu masuk rumah sakit. Kalau dikal boleh minta sama tuhan, dikal gak mau kayak gini. Dikal lebih senang kalau dikal pergi dari dunia ini. Jaga kakek nenek seperti kakak jaga dikal ya kak “ Seandainya saja aku bisa teriak dan berbicara kepada tuhan. Tolong kembalikan adikku dan aku takkan pernah melepas memelukknya. Aku menangis bukan karena sedih tapi karena bangga memiliki adik seperti dikal. Malaikat kecilku yang tegar menjalani hidup ini walaupun dia belum sempat banyak belajar tentang kehidupan.

lagu untuk ayah

Logika ku tak sanggup berpikir kenapa luna dilahirkan ibu dengan sempurna. Kadang aku berpikir kami lahir dari rahim dan ayah yang sama . tapi mengapa 360 derajatpun masih terlalu dekat untuk mengambarkan perbedaan kami . aku merasa dunia ini tidak adil. Oiyah , nama aku gita . luna itu adikku . ibu ku meninggal saat melahirkan luna. Karena itu juga kami diasuh oleh ayah yang seorang guru music disekolah music dikotaku. Beruntung sekali aku puya ayah seperti dia. Ayahku sangat cekatan dalam memainkan berbagai alat musik dia juga bisa menciptakan lagu. Hal yang membanggakan , ia pernah mengaransemen lagu-lagu artis ternama. Luna itu anak yang selalu dibanggakan dalam keluarga kami. Selain kepintarannya yang membuat dia menjadi juara umum disekolahnya. Dia juga memiliki bakat seni yang membuatnya sering menjuarai lomba tingkat provinsi katagore penyanyi cilik. Nah aku ? gak ada apa-apanya . gadis malang yang gak pintar , masuk sepuluh besar juga udah pencapaian indah dalam hidupku. Bidang seni ? itu apa lagi , gak ada sedikitpun darah seni dalam tubuhku. “ gita “ panggil ayah. “hadir yah “ seruku sambil menghampiri ayah. “ ayah dan luna mau kestudio rekeman , ada produser yang tertarik dengan suara luna “ kata ayah. GUBRRAAAK . rekaman ? hah ? Tubuhku langsung kaku , mimic mukaku menunjukan ekspresi kaget. yah rasa iri dalam diri ini semakin memuncak . tuhan , bagi-bagi dong bakat yang ada dalam diri luna ke aku. Hamper setiap hari ayah dan luna selalu pergi kestudio rekaman . katanya lag mempersiapkan album perdana luna. Pokoknya ayah lebih memperhatikan luna sekarang dan aku dicuekkin. 22 april Pagi menyambut, mataharipun masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Yeeess ! ini ulang tahunku yang ke 17 tahun. Kira-kira ayah kasih kado apa yah ? aku cepat-cepat mandi tanpa harus dipaksa seperti biasanya. Setelah mandi , berpakaian . aku gak sabar untuk menerima kado dari ayah. Aku turun tangga menuju dapur. “pagi kak gita “ sapa luna . uuuhh sok banget. Kayaknya hari ini biasa saja dengan hari biasanya. Gak ada ucapan selamat yang special. PANASNYA DUNIAA !!!hooaaaaamm ngantuk. Setelah pulang sekolah aku menuju kerumah . tpi rumah sepi , pada kemana orang dirumah ini . aku melangkahkan kaki masuk. Lalu aku menemukan sebuah memo di meja makan yang ternyata pesan dari ayah. Begini bunyinya .. “ ayah dan luna pergi untuk rekaman , gita tak usah menunggu ayah. Karena mungkin pulangnya malem.” From : ayah SEBEEEL !! kok mereka gak ingat hari ulang tahunku . keterlaluan . aku benci mereka. Pukul 22.15 Aku lagi nonton tv , ini sinteron lucu banget . judulnya “ ratapan anak pungut “ . lebih lucu dari komedi lawak. “ gita belum tiduryah ?” tiba-tiba ayah muncul. Aku Cuma diam tak menanggapi pertanyaan ayah . aku malah pasang muka cuek. “kok diem? Lagi ada masalah ya ?” seru ayah. Mataku panas, dadaku sesak. Aku gak tahan lagi . alahasil aku menangis . “ayah gak tau bagaimana perasaan gita, ayah udah gak peduli lagi sama gita. Ayah lebih sayang luna. Selalu saja luna, luna, dan luna. Sampai ayah gak ingat ulang tahun gita. Gita emang gak punya suara bagus kayak luna, gita juga gak punya otak yang pinter. Tapi gita juga anak ayah. “ nafasku sesak. Kulihat ayah dan luna tercengang. Aku langsung berlalri menuju kamarku. Aku gak tahu darimana aku punya keberanian untuk berbicara seperti itu. Rasanya baru kali ini aku menangis sejak kematian ibu. ** Matahari menembus jendelaku. Mataku bengkak gara-gara menangis tadi malam. Duh aku taku keluar kamar . gimana kalau ayah marah. Akhirnya aku beranikan diri keluar. “ gita ayo sarapan ! ngapain berdiri disitu ?” Tanya ayah seolah-olah tak terjadi apa-apa. Aku terus berlalu melewati ayah dan luna. Dan aku harus menjalan hari di sekolah hari ini. Lagi serius belajar tiba-tiba guru BP masuk ke kelasku. “ gita , ayo ikut ibu kekantor” seru buk riva. Waduuuh ada apa ini !! Aku pun ikut bersama buk riva. “ bu emang saya salah apa ?” tanyaku. “ itu adik kamu telpon, katanya penting.” Jawab buk riva. “ halo “ sahutku dengan nada jutek. “ kak ayah kak “ “ ayah kenapa ?” tanyaku mulai panik “ ayah pingsan , luna sekarang lagi dirumah sakit “ “ hah ? pingsan ? yaudah tunggu , ntar lagi aku kesana” sambil menutup telpon. Setelah minta izin. Aku menuju rumah sakit. Perasaan bersalah terus hinggap di otakku. Akhirnya sampai juga aku dirumah sakit. Tepat didepan ruangan ayah, langkahku terhenti saat mendengar suara luna yang menyanyikan lagu untuk ayah. Lamaku terpaku didepan pintu. “ gita ayo masuk “ ayah rupanya menyadari kehadiranku. Luna tersenyum tulus tanpa dibuat-buat melihatku. Aku duduk disamping ayah . “ maafin gita yah “ ucapku. “sudah lupakan saja. Mungkin salah ayah karena sering ninggalin kamu. Ayah sayang sama kamu git “ Mungkin aku gak punya suara bagus, gak perlu punya otak pintar. Yang terpenting aku anak ayah. Sekarang aku gak bakal ngiri lagi dengan luna. Karena aku untuk ayah . aku tak perlu bernyanyi . karena akulah alunan untuk ayah.

Kamis, 26 Januari 2012

BIOGRAFI SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Sutardji Calzoum Bachri terkenal sebagai pelopor puisi kontemporer. Beliau dilahirkan pada tanggal 24 Juni 1941 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikannya sampai tingkat doktoral, Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Sosial Universitas Padjadjaran, Bandung. Sutardji adalah anak kelima dari sebelas saudara dari pasangan Mohammad Bachri (dari Prembun, Kutoarjo, Jawa Tengah) dan May Calzoum (dari Tanbelan, Riau). Dia menikah dengan Mariham Linda
Pria kelahiran 24 Juni 1941 ini digelari 'presiden penyair Indonesia'. Menurut para seniman, kemampuan Soetardji laksana rajawali di langit, paus di laut yang bergelombang, kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi.
Kariernya di bidang kesastraan dirintis sejak mahasiswa yang diawali dengan menulis dalam surat kabar mingguan di Bandung.Selanjutnya, ia mengirimkan sajak-sajak dan esainya ke media massa di Jakarta, seperti Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana, majalah bulanan Horison, dan Budaya Jaya. Di samping itu, ia mengirimkan sajak-sajaknya ke surat kabar lokal, seperti Pikiran Rakyat di Bandung dan Haluan di Padang. Sejak itu, Sutardji Calzoum Bachri diperhitungkan sebagai seorang penyair.
Pada tahun 2000-2002 Sutardji Calzoum Bachri menjadi penjaga ruangan seni “Bentara”, khususnya menangani puisi pada harian Kompas setelah berhenti menjadi redaktur majalah Horison. Sutardji Calzoum Bachri selain menulis juga aktif dalam berbagai kegiatan, misalnya mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam, Belanda (1974), mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, USA (Oktober 1974—April 1975), bersama Kiai Haji Mustofa Bisri dan taufiq Ismail.
Ia pernah diundang ke Pertemuan International Para Pelajar di Bagdad, Irak, pernah diundang Menteri keuangan Malaysia, Dato Anwar Ibrahim, untuk membacakan puisinya di Departemen Keuangan Malaysia, mengikuti berbagai pertemuan Sastrawan ASEAN, Pertemuan Sastrawan Nusantara di Singapura, malaysia, dan Brunei Darussalam, serta pada tahun 1997 Sutardji membaca puisi di Festival Puisi International Medellin, Columbia.
Sutardji dengan “Kredo Puisi”nya menarik perhatian dunia sastra di Indonesia. Beberapa karyanya adalah O (Kumpulan Puisi, 1973), Amuk (Kumpulan Puisi, 1977), dan Kapak (Kumpulan Puisi, 1979). Kumpulan puisnya, Amuk, pada tahun 1976/1977 mendapat Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Kemudian pada tahun 1981 ketiga buku kumpulan pusinya itu digabungkan dengan judul O, Amuk, Kapak yang diterbitkan oleh Sinar Harapan.
Selain itu, puisi-puisinya juga dimuat dalam berbagai antologi, antara lain Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976), Writing from The Word (USA), Westerly Review (Australia), Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975), IkWil Nogdulzendjaar Leven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979), Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977), Parade Puisi Indonesia (1990), majalah Tenggara, Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).
Sutardji selain menulis puisi juga menulis esai dan cerpen. Kumpulan cerpennya yang sudah dipublikasikan adalah Hujan Menulis Ayam (Magelang, Indonesia Tera:2001). Sementara itu, esainya berjudul Gerak Esai dan Ombak Sajak Anno 2001 dan Hujan Kelon dan Puisi 2002 mengantar kumpulan puisi “Bentara”. Sutardji juga menulis kajian sastra untuk keperluan seminar. Sekarang sedang dipersiapkan kumpulan esai lengkap dengan judul “Memo Sutardji”

Berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Sutardji tetaplah Sutardji. Edan, namun bermakna dalam. ''Setiap orang harus membikin sidik jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa memberi warna,'' kata pengklaim diri Presiden Penyair Indonesia ini.
Gayanya yang jumpalitan di atas panggung, bahkan berpuisi sambil tiduran dan tengkurap, seperti telah menempel menjadi trade mark Sutardji. ''Aku tak pernah main-main sewaktu membikin sajak, aku serius. Tapi, ketika tampil aku berusaha apa adanya, santai namun memiliki arti,'' katanya.
Apakah puisinya itu baik atau buruk, bagi Sutardji, ia berupaya dalam penyajiannya tak berjarak dengan penonton. ''Kehadiran sajak itu harus akrab dengan penonton, tak berjarak dengan kehidupan,'' tambahnya.
Penghargaan yang pernah diraihnya adalah Hadiah Sastra Asean (SEA Write Award) dari Kerajaan Thailand (1997), Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993), Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan dianugrahi gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).
Dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul “O Amuk Kapak” beliau menyatakan: “Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.