Rabu, 02 Mei 2012
leukimia hero
Taburan bungan baru saja aku taburkan diatas kuburan dikal adikku yang wafat setahun lalu. Hari kamis ini adalah jadwalku untuk berziarah kemakam dikal. Ini aku lakukan rutin setiap minggu bersama kakek nenekku yang biar tua tapi semangat hidupnya bisa dibilang seperti bayi yang baru lahir kedunia. Dikal meninggal karena penyakit leukemia yang diidapnya. Orang tua ku meninggal kecelakan pesawat pada saat umurku 15 tahun dan pada saat itu dikal baru saja berumur 2 tahun. Aku lah berkewajiban merawat adikku.
Hari ini tepat setahun dikal berpulang menghadap sang khalik. Aku begitu ingin memeluknya namun tak bisa, aku hanya ingin mengulang dan berbagi cerita tentang pahlawan kecilku, dikal. Aku sangat menyayangi dikal , aku tau persis bagaimana perasaan dikal ketika tumbuh tanpa belaian kasih dari orang tua. Dia hanya berlindung kepadaku dan juga kakek nenekku. Dikal anak yang lucu, tubuhnya gempel, dan berkulit putih. Setiap yang berjumpa dengannya pasti berkeinginan untuk menarik pipinya.
Tapi tak lama orang tuaku meninggal, aku seperti tertampar untuk kedua kalinya setelah mengetahui bahwa dikal yang selalu menangis menahan sakit divonis dokter mengidap leukemia. Aku tak tahu bagaimana hidupku saat itu. Seandainya saja aku yang mengidap leukemia itu. Aku hanya bisa berkeluh “ya tuhan inikah jalan hidupku, baru saja aku kehilangan kedua orang tuaku dan kini aku sedang menuju tahap kehilangan adikku tersayang”.
Mungkin keluhku tak mempan buat mengalahkan semangat adikku yang belum mengerti apa-apa itu. Kata dokter , hidup dikal tinggal dua bulan lagi dan hanya mukjizat lah untuk dia bertahan lebih lama.
Tapi enam bulan setelah dikal divonis dokter, aku merasa bangga dan haru melihat adikku mampu bertahan sejauh itu. Dokterpun heran dan menyebut dikal sebagai leukemia hero. Hari-harinya dilalui seperti anak-anak pada umumnya. Sampai hari ini dikal berumur 4 tahun dia tetap seperti anak pada umumnya. Setiap hari dia bermain bersama anak-anak seumurannya diperumahan tempat aku tinggal. Sesekali dia mengeluh sakit kepadaku dan itu wajar. Terkadang orang dewasa saja tidak mampu melewati cobaan berat dalam hidupnya.
Aku sebagai kakak berusaha member dukungan kepada dikal. Meskipun aku tidak pernah absen sekolah, tapi waktuku takkan pernah kurang untuk dikal. Akupun selalu setia menemani dikal untuk menjalani kemoterapi yang begitu menyiksanya.
Senin sepulang aku sekolah, aku bergegas pergi klinik Dr. rudi yang menangani dikal sejak umur 2 tahun. Hari itu dikal akan menjalani kegiatan rutinnya, yah kemoterapi atau momok baginya. Namun sebelum kemoterapi dimulai . aku, nenek, dikal dan dokter rudi duduk diruangan dokter untuk membicarakan kondisi dikal. Ada suatu perkataan yang membuat aku pantas untuk menyebut dikal sebagai malaikat kecil. Pada saat dokter menanyakan apakah dikal merasa sakit, dikalpun menjawab ya. Ketika dokter menanyakan kenapa dia tidak menangis. Dia menjawab
“ untuk apa aku menangis pak dokter ? apa iya dengan aku menangis penyakit ku akan sembuh dan pergi dari tubuhku? Bermain bersama teman-teman, tertawa bersama kakakku, dan tidur bersama kakek neneklah yang membuat aku merasa sembuh”
Sontak saja tanpa sempat aku menahan, setetes butiran air mata jatuh dari mataku. Aku tak tahu apa yang dalam pikiran dikal, yang aku tahu hanyalah dikal adalah malaikat kecil yang dikirimkan tuhan untuk menemani dan mengajari aku tentang kehidupan setelah orangtuaku meninggal.
Seminggu sebelum adikku meninggalkan ku untuk selamannya, dia menggangguku yang sedang belajar mengerjakan tugas fisika. Malam itu dia sangat mencari perhatianku dan akhirnya aku memutuskan untuk berhenti belajar dan melanjutkan besok subuh. Pada saat aku ingin mengajaknya tidur , dikal seperti sedang asyik dengan kamera digital yang aku letakkan di meja belajarku. Aku tak ingin sedikitpun mengganggunya.
Ternyata mata ngantukku tak tahan ku bending hingga malam itu aku tidur duluan dan dikal? Aku tak tahu kabarnya lagi dengan kamera itu. Paginya , aku kesiangan dan rumah begitu sepi. Lampu ponsel yang menyala menandakan ada pesan masuk. Pesan dari nenekku yang mengabarkan kalau tadi subuh dikal kolep dan harus dibawa kerumah sakit.
Kunci motor langsung aku ambil dari gantungan dan tanpa berbesih badan aku langsung menuju rumah sakit dan menuju kamar yang telah di beri tahu nenek dalam pesan singkat tadi.
Badanku bergetar melihat dikal yang terbaring ditempat tidur dengan selang oksigen dihidungnya, kabel-kabel medis ditubuhnya, dan monitor yang menunjukan keadaan jantungnya. Dikal koma selama seminggu. Yang aku lakukan hanyalah berdoa dan meminta agar dikal diberi kekuatan untuk melewati ini semua. Namun malam itu adalah malam yang berat untuk aku dan kakek nenekku. Di monitor terlihat kalau kecepatan detak jantung dikal melemah. Aku membisikan sebuah kalimat ke telinga dikal “ dikal adikku sayang. Kalau dikal mau pergi, pergilah kemanapun dikal mau pergi” dan setelah itu dikal mengeluarkan airmata dari matanya yang tertutup.
Air mata itu adalah tangis pertama dan terakhirnya dirumah sakit itu. Dikal pergi ketempat akhir dari segala kehidupan. Tangisku tumpah diatas tubuh dikal. Aku lah yang merasa paling kehilanga. Aku tidak akan pernah memiliki adik seperti dikal lagi.
Setelah acara pemakaman dikal selesai, aku berniat untuk mebereskan mainan dikal yang masih berantakan dikamarku. Aku melihat kamera yang sempat dimainin dikal sebelum dia koma dan akhirnya meninggal. Aku menggapai kamera itu dan duduk di atas tempat tidur untuk mengingat lagi tingkah dikal. Setelah aku membuka display picture ternyata ada rekaman. Seingatku aku tak pernah menggunakan kamera ini untuk merekam. Tanpa pikir panjang langsung saja aku menekan tombol oke untuk mulai memutar rekaman itu.
“ kak tita ku sayang , dikal sayang kali sama kakak. Dikal juga sayang dengan kakek nenek. Tapi dikal adik yang ngerepotin kakak. Dikal selalu masuk rumah sakit. Kalau dikal boleh minta sama tuhan, dikal gak mau kayak gini. Dikal lebih senang kalau dikal pergi dari dunia ini. Jaga kakek nenek seperti kakak jaga dikal ya kak “
Seandainya saja aku bisa teriak dan berbicara kepada tuhan. Tolong kembalikan adikku dan aku takkan pernah melepas memelukknya. Aku menangis bukan karena sedih tapi karena bangga memiliki adik seperti dikal. Malaikat kecilku yang tegar menjalani hidup ini walaupun dia belum sempat banyak belajar tentang kehidupan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar